Sunday, January 30, 2011
Kisah pengembara Islam yang tiada tandingnya
”Aku tinggalkan Tangier, kampung halamanku, pada Khamis 2 Rajab 725 H/ 14 Jun 1325 M. Pada masa itu usiaku baru 21 tahun empat bulan. Tujuanku adalah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci di Makkah dan berziarah ke makam Rasulullah SAW di Madinah,” tulis Ibnu Battuta - pengembara dan penjelajah Muslim terhebat di dunia — membuka pengalaman perjalanan panjangnya dalam buku catatannya, Rihla.
Dengan penuh kesedihan, ia meninggalkan orang tua serta sahabat sahabatnya di Tangier. Tekadnya sudah bulat untuk menunaikan rukun Islam kelima. Perjalanannya menuju ke Baitullah telah membawanya mengembara dan menjelajahi dunia. Seorang diri, dia mengharungi samudera dan menjelajah daratan demi satu tujuan mulia.
”Kehebatan Ibnu Battuta hanya dapat dibandingkan dengan pelancong terkemuka Eropah, Marcopolo (1254 M -1324 M),” ujar Sejarawan Brockelmann mengagumi ketokohan pengembara Muslim itu.
Selama hampir 30 tahun, dia telah mengunjungi tiga benua mulai dari Afrika Utara, Afrika Barat, Eropa Selatan, Eropah Timur, Timur Tengah, India, Asia Tengah, Asia Tenggara, dan Cina.
Perjalanan yang panjang dan pengembaraannya mengelilingi dunia itu mencapai 73 ribu mil atau sejauh 117 ribu kilometer.
Tidak hairanlah, bila kehebatannya mampu mengatasi sejumlah penjelajah Eropah yang diagung-agungkan Barat seperti Christopher Columbus, Vasco da Gama, dan Magellan yang mulai berlayar 125 tahun setelah Ibnu Battuta.
Sejarawan Barat, George Sarton, mencatat jarak perjalanan yang ditempuh Ibnu Battuta melebihi pencapaian Marco Polo.
Tak hairan, bila Sarton geleng-geleng kepala dan mengagumi ketokohan Ibnu Battuta yang mampu mengarungi lautan dan menjelajahi daratan sepanjang 73 ribu mil itu. Sebuah pencapaian yang tak ada duanya pada masa itu.
Siapakah sebenarnya pengembara bernama Ibnu Battuta itu? Pemuda kelahiran Tangier 17 Rajab 703 H/ 25 Februari 1304 itu dengan nama penuh Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim At-Tanji, bergelar Syamsuddin bin Battutah.
Sejak kecil, Ibnu Battuta dibesarkan dalam keluarga yang taat menjaga tradisi Islam. Ibnu Battuta begitu tertarik untuk mendalami ilmu-ilmu fekah dan sastera dan syair Arab.
Ilmu yang dipelajarinya semasa kecil hingga dewasa itu banyak membantunya dalam melalui perjalanan panjangnya.
Ketika Ibnu Battuta membesar menjadi seorang pemuda, dunia Islam dibahagikan kepada kerajaan-kerajaan dan dinasti. Beliau sempat melihat kejayaan Bani Marrin yang berkuasa di Maroko pada abad ke-13 dan 14 M.
Latar belakang Ibnu Battuta begitu jauh berbeza jika dibandingkan Marco Polo yang seorang pedagang dan Columbus yang benar-benar seorang pelayar sejati.
Walaupun Ibnu Battuta adalah seorang teologis, sastrawan puisi dan cendekiawan, serta kemanusian, namun ketokohannya mampu mengatasi keduanya.
Walaupun hatinya berat untuk meninggalkan orang-orang yang dicintainya, Ibnu Battuta tetap meninggalkan kampung halamannya untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah yang berjarak 3.000 mil ke arah Timur.
Bermula dari Tangier, Afrika Utara dia menuju Iskandariah. Lalu kembali bergerak ke Dimyath dan Kaherah.
Setelah itu, dia menjejak kakinya di Palestin dan seterusnya menuju Damaskus. Ia lalu berjalan kaki ke Ladzikiyah hingga sampai di Allepo.
Harapan menuju Mekah terbuka dihadapannya setelah dia melihat satu kafilah sedang bergerak untuk menunaikan ibadat haji ke Tanah Suci. Ia pun bergabung dengan rombongan itu. Beliau menetap di Makkah selama dua tahun.
Setelah cita-citanya tercapai, Ibnu Battuta, ternyata tidak lterus pulang ke Tangier, Maroko. Ia lebih memilih untuk meneruskan pengembaraannya ke Yaman melalui jalan laut dan melawat Aden, Mombosa, Timur Afrika dan menuju ke Kulwa.
Ia kembali ke Oman dan kembali lagi ke Mekah untuk menunaikan Haji pada tahun 1332 M, melalui Hormuz, Siraf, Bahrin dan Yamama.
Itulah pusingan pertama pengembaraan yang tempuh Ibnu Battuta. Pengembaraan pusingan kedua, dilalui Ibnu Battuta dengan menjelajahi Syam dan Laut Hitam.
Ia lalu meneruskan pengembaraannya ke Bulgaria, Roma, Rusia, Turki serta pelabuhan terpenting di Laut Hitam iaitu Odesia, kemudian menyusuri sepanjang Sungai Danube.
Ia lalu berlayar menyeberangi Laut Hitam ke Semenanjung Crimea dan mengunjungi Rusia Selatan dan seterusnya ke India. Di India, ia pernah dilantik menjadi kadi.
Dia kemudiannya bergerak lagi ke Sri Langka, Indonesia, dan Canton. Kemudian Ibnu Battuta mengembara pula ke Sumatera, Indonesia dan melanjutkan perjalanan melalui laut Amman dan akhirnya meneruskan perjalanan darat ke Iran, Iraq, Palestin, dan Mesir.
Beliau kemudiannya kembali ke Makkah untuk menunaikan ibadah hajinya yang ke tujuh pada bulan November 1348 M. Pengembaraan pusingan ketiga kembali dimulai pada 753 H. Beliau sampai di Mali di tengah Afrika Barat dan akhirnya kembali ke Fez, Maroko pada 1355 M.
Ia mengakhiri kisah perjalanannya dengan sebuah kalimah, ”Akhirnya aku sampai juga di kota Fez” dan disitulah dia menuliskan kisah pengembaraannya. Salah seorang penulis bernama Mohad Ibnu Juza menuliskan kisah perjalanannya dengan gaya bahasa yang renyah.
Dalam waktu tiga bulan, buku berjudul Persembahan seorang pengembara tentang Kota-Kota asing dan Perjalanan yang Mengkagumkan, diselesaikannya pada 9 Desember 1355 M.
Secara terperinci, setiap kali mengunjungi sebuah negeri atau negara, Ibnu Battuta mencatat mengenai penduduk, pemerintah, dan ulama.
Ia juga mengisahkan kedukaan yang pernah dialaminya seperti ketika berhadapan dengan penjahat, hampir pengsan bersama kapal yang karam dan nyaris dihukum penggal kepala oleh pemerintah yang zalim.
Ia meninggal dunia di Maroko pada pada tahun 1377 M. Kisah pencapaian Ibnu Battuta yang luar biasa itu, kononnya dirampas dan disembunyikan Kerajaan Perancis semasa menjajah benua Afrika. Buktinya, Barat baru mengetahui kehebatannya setelah tiga abad Ibn Batutta meninggal dunia.
Ehoza.com
Friday, August 13, 2010
EnVISION it. BELIEVE it. ACCOMPLISH it.
You have to see where you want to go. Whether you are driving your car or setting a life goal, you must see where you want to go. You must have a vision of where you are going.
Running vision. Before every race, I envisioned the entire race. Every corner, every surge, every final stretch. I anticipated every move from everyone else. I envisioned the entire race in detail before every successful race I did.
Where do we want to go? Where do we see ourselves in 6 months, 12 months, 2 years? We need a vision of where it is we will be. Without out a vision, there is no way to know how to get there. Without looking ahead, we will stay where we are. Be specific. Picture what the final outcome is and picture yourself getting there. What will it take?
What are the steps needed to get there? Picture yourself doing all of the steps to get to your goal. This is essential to success. You got to set expectations for yourself so you will actually do them.
Don’t just let the next steps to success happen. Be proactive with vision so that you anticipate what is coming next so that you know what you have to do when it is time to complete the next step, and then you will be ready to start on the next step.
The second part of vision is belief. It is one thing to come up with a vision of where we want to go, but it is another thing to really believe that you will make it there. YOU MUST BELIEVE YOU WILL ACCOMPLISH YOUR GOAL.
Everyone has an imagination, not everyone has the drive and will to be successful. To be successful you must believe you will successful. If you start with the belief that you will never get to where you want to be, you wont ever get there.
What are our long term goals? Picture them. Picture what steps you have to do to get there. Believe you will get through all those steps. There are going to be setbacks and hardships. Things will not always go exactly as you envisioned, but you must continue to believe you will succeed. When your belief fades, so does your chances of success. In the hard times, belief will get you through. It starts with belief.
Monday, March 8, 2010
kisah yang sangat bagus.
Friday, January 29, 2010
Legasi yang perlu di teruskan.
Monday, October 20, 2008
Petikan dari rencana@kosmo 18/10/2008 dalam siri Jelajah Thailand
Oleh ROHANA MAN
rencana@kosmo.com.my
Bangkok, sebuah ibu kota yang sesak sehinggakan kami terpaksa berjalan kaki untuk sampai ke hotel di Jalan Khaosan. Ayutthaya pula, sebuah kota purba yang kaya dengan runtuhan kuil yang berusia ratusan tahun.

SEORANG penari berpakaian tradisional Thai menyambut ketibaan pelancong di pentas terapung di Ratchaburi.
________________________________________
SEGALANYA seperti tidak menjadi. Banyak masalah tidak diduga muncul pada saat akhir pemergian kami ke 'tanah gajah putih'. Namun, saya bersama tiga rakan berjaya mengurus cabaran awal dengan baik. Hasilnya, dua daripada kami menaiki pesawat AirAsia manakala dua rakan lain menaiki keretapi dari Butterworth. Kami bertemu di Bangkok.
Menaiki pesawat hanya mengambil masa dua jam berbanding perjalanan keretapi yang memakan masa kira-kira 22 jam.
Hari pertama di Bangkok menyaksikan kami 'bergaduh' dengan pemandu teksi. Setelah gagal menemui hotel yang dicari, kami akhirnya menaiki sebuah teksi lain menuju ke Jalan Khaosan. Di sepanjang jalan ini, kami melihat puluhan hotel, bar, pusat hiburan dan rumah urut yang murah sekali gus menjadi tumpuan pengembara backpackers dari seluruh dunia.
Kami menginap di Siam Oriental Inn yang menawarkan bilik berhawa dingin pada harga RM39 satu malam. Pada malamnya, kami menjelajah kawasan sekitarnya dan sempat mencuba urutan kaki yang dikenakan bayaran RM12 untuk setengah jam. Terasa biasa sahaja, tiada yang istimewanya urutan ini. Mungkin kami pergi salah tempat.
Pasar terapung Damnoen Saduak
Kata orang, tidak lengkap jika tidak melawat pasar terapung di wilayah Ratchaburi. Dikenali sebagai Damnoen Saduak Floating Market, kami menyewa teksi pergi dan balik pada harga RM150. Perjalanan ke sungai itu memakan masa 1 jam 15 minit kerana jaraknya kira-kira 104 kilometer dari Bangkok. Kami terkejut kerana dikenakan tiket berharga RM100 seorang untuk lawatan dua jam di pasar terapung itu dengan menaiki Long Tail Boat. Mahu tidak mahu, terpaksalah kami membayarnya.

TRAFIK di pasar terapung Damnoen Saduak yang terletak di wilayah Ratchaburi sentiasa sesak dengan bot panjang yang dipenuhi muatan barangan jualan.
________________________________________
Di kiri dan kanan tebing sungai dipenuhi dengan gerai jualan pelbagai barangan daripada sayuran, buah-buahan, bunga-bungaan segar, barangan siap seperti pakaian, kraftangan, cenderamata dan lain-lain. Menariknya, kebanyakan bot ini dikemudi oleh wanita!. Kami sempat singgah di sebuah pusat kraftangan tempurung kelapa dan menonton persembahan tarian tradisional Thailand. Terdapat lapan jenis tarian yang boleh dipilih dan kami memilih tarian Lao Ving.
Selesai lawatan ini, kami menaiki teksi yang sama menuju ke The Grand Palace di Bangkok. Setelah membayar tiket masuk berharga RM30 seorang, kami menjelajah seluruh kompleks istana yang terletak di kawasan yang dinamakan Ko Ratanakosin. Tarikan utamanya ialah istana raja yang hanya digunakan untuk majlis tertentu, Wat Phra Kaeo atau The Temple of the Emerald Buddha. Lawatan diteruskan ke restoran Cili Padi milik pasangan suami dan isteri dari Malaysia, Norliza Tahir dan Azizan Ibrahim. Kami menikmati makanan Malaysia yang menyelerakan.
Memandangkan petang masih muda, kami sempat singgah di beberapa buah pusat beli-belah di kota raya Bangkok seperti Platinum Fashion Mall. Di sini, segala jenis pakaian dijual secara borong.
Selain wajah-wajah tempatan, kami melihat pusat beli-belah ini dibanjiri oleh pelancong wanita Arab yang memborong sambil ditemani suami dan anak-anak.

MAKANAN eksotik seperti katak, lipas, cengkerik, belalang dan ulat yang digoreng laris dijual di sebuah pasar malam di Ayutthaya.
________________________________________
Malam semakin larut dan oleh kerana mahu menjimatkan belanja, kami menaiki bas untuk pulang ke hotel.
Menaiki bas awam di Bangkok memang menyeksakan. Bas bernombor 511 tidak pernah meluncur laju, sebaliknya bergerak seperti kura-kura. Setelah satu jam berdiri dalam keadaan bersesak, kami akhirnya berjalan kaki untuk balik ke hotel. Bertanyakan kepada seorang remaja lelaki yang kebetulan berdiri di sebelah saya, katanya, kami perlu berjalan sejauh satu kilometer untuk sampai ke Jalan Khaosan. Oleh kerana tersesat dan tersalah masuk lorong, perjalanan menjadi lebih jauh daripada yang dijangkakan. Memandangkan kepenatan, kami tidur awal kerana keesokan harinya, kami perlu menaiki bas pada awal pagi untuk ke Ayutthaya.

SUASANA sepi pada waktu pagi di Jalan Khaosan, Bangkok bertukar sibuk menjelang waktu malam.
________________________________________
Kota purba Ayutthaya
Seawal pukul 7 pagi, kami menaiki teksi menuju ke Northern Bus Terminal di Mor Chit. Sebaik tiba, kami terus menuju ke kaunter tiket dan petugas di kaunter itu menyuruh kami menunggu di terminal 113 atau 123. Ayutthaya pernah menjadi ibu negara Siam (nama lama Thailand) selama 417 tahun. Kami menaiki bas dari terminal 113.
Tambang bas berhawa dingin ini hanya RM5.50. Bas berhenti di beberapa lokasi sebelum tiba di Ayutthaya pada pukul 9.45 pagi. Agak lucu, kerana bas ini tidak berhenti di stesen, sebaliknya di tepi jalan. Kami hanya turun selepas seorang lelaki di luar bas mengetuk cermin tingkap di sisi tempat duduk saya dan menunjukkan isyarat supaya turun. Lelaki itu kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Yasin. Oleh kerana beliau kurang fasih berbahasa Inggeris dan hanya faham beberapa perkataan sahaja, ia menyukarkan kami mendapatkan maklumat lanjut tentang bandar purba ini. Dalam pada itu, Yasin memberitahu beliau beragama Islam dan memandu tut-tut, sejenis kenderaan roda tiga yang popular di Thailand untuk mencari rezeki.

SEORANG rakan bergambar di hadapan Wat Chaiwatthanaram yang berusia 378 tahun di Ayutthaya.
________________________________________
Saya dan Kak Kay sempat membeli beras di sebuah kedai berdekatan. Mungkin ada yang tertanya kenapa kami membeli beras? Jawapannya ialah, kami memasak di bilik hotel menggunakan periuk nasi yang dibawa. Lauknya terdiri daripada rendang, kari, kurma dan ayam masak merah segera Brahim. Kami lakukan ini untuk menjimatkan perbelanjaan.
Yasin menunjukkan senarai hotel yang dicadangkan sebelum membawa kami ke sebuah hotel. Malangnya, hotel itu telah penuh dan kami kemudian dibawa ke Jitvilai House. Nasib baik, bilik masih banyak dan bayarannya juga murah iaitu RM50 satu malam.
Di antara semua hotel yang kami menginap, inilah hotel yang paling baik. Ia bukan sahaja luas tetapi bersih dengan lantai jubin dan tilam yang empuk. Turut disediakan ialah televisyen dan almari solek berlaci. Untuk memudahkan lawatan kami, Yasin dengan rela hati menyerahkan tugas membawa kami melawat sekitar Ayutthaya kepada seorang rakannya yang fasih berbahasa Inggeris.
Dengan bayaran RM20 seorang, kami dibawa menaiki tut-tutnya melawat enam buah kuil purba, antaranya Wat Phra Si Sanphet (dibina pada tahun 1350 dan merupakan imej paling popular dalam brosur pelancongan Thailand), Wat Chaiwatthanaram (dibina pada tahun 1630 dan memiliki menara mengikut seni bina diraja Kemboja) dan Wat Phra Mahathat (dibina pada tahun 1374).

PENULIS bergambar di hadapan kuil Wat Phra Si Sanphet berusia 658 tahun dan merupakan imej paling popular dalam brosur pelancongan Thailand.
________________________________________

BERGAMBAR di hadapan sebuah kuil yang terdapat dalam kawasan The Grand Palace, Bangkok.
________________________________________
Terdapat kira-kira 95 buah kuil purba di Ayutthaya yang sebahagian besarnya terletak di Ayutthaya Historical Park.
Bandar purba ini telah diiktiraf sebagai Tapak Warisan Dunia oleh Pertubuhan Pendidikan, Saintifik dan Kebudayaan Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu (Unesco) pada tahun 1981.
Pada malamnya, kami berempat sempat menjelajah sebuah bazar malam yang menjual hampir semua barangan keperluan rumah termasuk perabot. Di sini juga, senjata api dijual tanpa sekatan. Makanan eksotik seperti katak, lipas, cengkerik, belalang dan ulat yang telah digoreng nampaknya laris dijual.
Dalam sibuk saya memilih kerongsang daripada batu jed, saya terlihat sebuah pentas dikerumuni pengunjung. Di atas pentas, sebaris wanita berpakaian hanya coli dan seluar dalam sedang asyik menari mengikut alunan muzik yang rancak.
Dari jauh, saya melihat terdapat lapan penari kesemuanya. Rupa-rupanya, mereka mengambil bahagian dalam pertandingan tarian rancak.
Apabila muzik dibunyikan, mereka akan menari mengikut gaya sendiri. Setiap kali muzik berhenti, juri akan memilih seorang peserta untuk disingkirkan. Seorang demi seorang penari tersingkir tetapi kami tidak menunggu sampai habis persembahan itu.

________________________________________
Keesokan harinya pada awal pagi, kami menaiki van ke Kanchanaburi untuk melihat jambatan bersejarah peninggalan Perang Dunia Kedua di Sungai Kwai.
Lawatan ini hanya sempat dilakukan setengah hari sahaja kerana Kak Kay menyedari bahawa dia tertinggal pasport dan dompet di Jitvilai House, Ayutthaya. Terpaksalah kami berpatah balik dan syukur kerana semuanya ada di dalam dompet Kak Kay. Selepas itu, barulah kami lega untuk meneruskan perjalanan kereta api menuju ke Chiang Mai.
Wednesday, August 6, 2008
Jelajah Thailand - siri 1
8.45 p.m - Bertolak dari KL Central ke Batuworth.Tido la sepanjang dalam keretapi. Harga tiket kelas 2 lebih kurang RM 30.00. Tak ada katil tapi sit bole turun. Kalu kelas 3 dalam RM 17.00 tetapi sit tegak jer.Agak tidak banyak cer sangat la dalam ketekapi ni, tapi lebey kurang pukul 11.00p.m mcm tu aku teman jugak la Kak K pergi kantin cari makanan dia lapar.Aku dah belasah piza maser makan kat K.L awek belanja hehe..Satu lagi yg baru aku tahu dalam keteapi tu ada tempat sembahyang dan tempat amibil air sembahyang sekali dekat jer dgn tempat sembahyang. Agak di bangga kan juga la perkhidmatan KTM.
14/07/08 - Isnin
6.00 a.m - sampei di batuworth.
6.30 a.m - Sem subuh kat surau keretapi batuworth jumpa Pakcik Mat.
7.00 a.m - Lepas sem nak pegi breakfirst tapi takkan nak bawa beg besau2 kulu kilir, jadi tny la polis kat situ dia cakap mintak maaf tak bole letak kat balai polis ni hehehe..tny KTM.Ruper2 nyer ada perkhidmatan simpan beg oleh KTM, cuma bayar RM 3.00 jer..ok la jugak.
8.30 a.m - Naik feri pg ke penang bahagian pulau, ju datang amik naik kete pg breakfirst sekali lagi kat mamak penang plak. pekena masalodeh
10.00 a.m - Ronda2 penang singgah pulau jerejak, last2 tak tau nak buat aper pegi la rumah Ju tumpang mandi jap.Dapat la baring2 kan badan dalam sejam dua before mandi. Tapi ada satu citer yang agak best jugak la kat rumah Ju ni, biasa kawan2 aku cakap kalu diaorang buat citer pasal gosip awek ni, statement yang akan keluar ialah " hui tip kalu ko dapat awek tu untung siut , pendek kater masuk rumah bawak berus gigi jer.." tapi kali ni aku tumpang mandi rumah Ju towel di sediakan..bukan setakat tu berus gigi baru cap tesco pun disediakan juga...pergh !! lagi dahshyt yang masuk rumah berus gigi pun tak pyah bawak..hehe bawak badan jerk..
13.00 - lepas tengok gambar2 kat rumah dia dan tgk CD pokhara kat rumah dia, pegi makan di Restoran Beras Cap Udang..pergh memang best pekena masakan kampung..terangkat habis beb ulam2 dgan pari bakar.Pastu agak kelam kabut jugak la pergi ker stesen keretapi batuworth semula nasib baik feri pukul 2.oo p.m tak terlepas.
14.30 - sampai di stetsen batuworth semula, huh Kak K tukar duit bath, tapi aku buat derk jer..nak tukar macam mana sebab duit malaysia pun aku tak ada dalam poket..hehehe..bertolak ker bangkok.
14.45 - Bertolak ke Bangkok. Hanya 2 gerabak jer yang diperuntukkan untuk membawa passanger dari Malaysia.Masa kat setesen Batuworth nak naik keteapi tu ada sorang mamat ni pakai baju ala2 player ragbi, badan agak taf jugak la..Perjalanan mengambil maser lebih kurang 25 jam dari batuworth ke stesen Hua Lam phong Bangkok, tetapi janagn risau perkhidmatan keretapi ni agak selesa la sebab pukul 8.30 malam dah pasang katil denagn cadar dan selimut baru...so tak penat la sebab sepanjang malam boleh tido..bukak jer mater dah sampai kat thailand.
19:30 - Tapi mase kat padang besar kena keluar kejap la cop passport dalam setengah jam jerk berenti kalu orang tak ramai.Masa ni Kak K queue dia beborak pulak sorang mamat bebangsa cine dari Malaysia bernama Yao.mamat ni muda lagi lebey kureng umur dia lingkungan 26 tahun.
Cerita pasal Ju
Cerita pasal Azman
Cerita pasal Yao
